Mark Zuckerberg Salip Bill Gates, Kekayaan Bertambah 440 Triliun dalam Semalam
Pada akhir pekan yang lalu, kekayaan sang CEO Meta, Mark Zuckerberg, berhasil melampaui pendiri Microsoft, Bill Gates. Kondisi finansial ini tidak lain karena lonjakan 22% saham Meta, yang membawa tambahan kekayaan mencapai US$28 miliar atau setara dengan Rp 440 triliun.

Dengan pencapaian ini, pendiri Meta kini meraih kekayaan bersih sebesar US$165 miliar atau setara Rp 2.593 triliun.
Tak hanya itu, menurut sumber dari CNBC Internasional, Zuckerberg juga akan mendapatkan uang tunai sekitar US$174 juta atau Rp 2,7 triliun saat perusahaan membayarkan dividen pertamanya pada bulan Maret mendatang. Total kepemilikan saham Kelas A dan B Meta yang dimilikinya mencapai sekitar 350 juta.
Zuckerberg berpotensi mendapatkan lebih dari US$690 juta atau Rp 10,8 triliun setiap tahun jika Meta mampu mempertahankan dividen kuartalan sebesar 50 sen. Perubahan besar ini menandai perjalanan luar biasa bagi pria yang kekayaannya terkait erat dengan kinerja saham Meta.
Tahun 2021 menjadi puncak kekayaan bersih Zuckerberg, mencapai US$142 miliar menurut Bloomberg Billionaires Index saat Nasdaq mencapai rekor tertinggi.
Namun, pada tahun 2023, Meta mengalami penurunan akibat koreksi pasar dan kritik keras terhadap investasi besar-besaran di Reality Labs, divisi pengembangan ekosistem virtual reality (VR).
Tindakan cepat Zuckerberg, seperti melakukan PHK massal dan mendeklarasikan tahun efisiensi di Meta untuk tahun 2023, menjadi langkah strategis.
Banyak CEO teknologi lain yang menghadapi tantangan serupa dari tahun 2022 hingga 2024. Pada titik terendah pada Oktober dan November 2022, saham Meta diperoleh dengan harga sekitar US$90 dan kekayaan Zuckerberg turun drastis menjadi US$36 miliar.
Ketika membahas pencapaian finansial terbaru Mark Zuckerberg, tidak dapat dipisahkan dari sejarah mendirikan Facebook, yang menjadi landasan bagi kesuksesannya saat ini. Kini, facebook sendiri sebagai platform telah berumur 20 tahun.
Pada 2004, Zuckerberg, yang masih mahasiswa di Harvard, bersama teman-temannya, Andrew McCollum, Eduardo Saverin, Dustin Moskovitz, dan Chris Hughes, menciptakan platform pertemanan daring bernama "The Facebook."
Ide ini muncul dari keinginan Zuckerberg untuk menciptakan komunitas yang menghubungkan mahasiswa di kampusnya. Melalui "The Facebook," mahasiswa dapat membuat profil, berbagi informasi, dan terhubung dengan rekan-rekan sekelas.
Popularitasnya melesat dengan cepat, dan dalam waktu singkat, Zuckerberg meninggalkan kuliahnya untuk fokus sepenuhnya pada pengembangan Facebook.
Sejak diluncurkan, Facebook terus berkembang dan memperluas cakupannya ke berbagai kelompok usia dan negara. Pada 2012, Facebook melanjutkan langkah besar dengan menjadi perusahaan publik setelah Initial Public Offering (IPO) yang sangat sukses.
Zuckerberg, sebagai pendiri dan CEO, memainkan peran kunci dalam mengarahkan visi perusahaan untuk menjadi platform sosial terbesar di dunia.
Tidak hanya menjadi pusat pertemanan, Facebook juga melibatkan diri dalam sejumlah akuisisi strategis, seperti Instagram pada 2012 dan WhatsApp pada 2014, yang semakin memperkuat dominasinya di ranah media sosial.
Meskipun menghadapi tantangan dan kritik, Zuckerberg terus berinovasi, membawa Facebook ke arah baru, seperti fokus pada realitas virtual dan augmented reality melalui Reality Labs.
Sejarah Zuckerberg mencerminkan perjalanan yang penuh tantangan, inovasi, dan keberanian untuk mengambil risiko. Kesuksesannya dalam mengelola Facebook dan mengembangkan Meta sebagai entitas teknologi yang beragam adalah bukti visinya yang luas dan ketekunan dalam mencapai tujuan besar.
Pencapaian finansial terbarunya hanyalah salah satu bab dari kisah inspiratif perjalanan seorang mahasiswa Harvard yang menciptakan fenomena sosial global.
Dengan laporan pendapatan kuartal keempat yang mengungguli ekspektasi, Meta mencatatkan pertumbuhan signifikan di setiap metrik utamanya.
Laba bersihnya meningkat lebih dari tiga kali lipat dibandingkan dengan kuartal tahun sebelumnya, dan nilai perusahaan mencapai puncaknya, yaitu US$1,2 triliun.